Cara Berhenti dari Ketergantungan Sabu

  • 2 min read
  • Sep 22, 2021
Cara Berhenti dari Ketergantungan Sabu

Konsumsi narkoba adalah sebuah tindakan yang dilarang hukum di Indonesia. Narkotika adalah suatu bahan yang mencelakakan kesehatan tubuh penggunanya. Narkoba bisa mengakibatkan kecanduan, lalu apabila konsumsinya distop biasanya bisa memicu efek putus obat. Efek putus obat yang kerap dialami misalnya sakit kepala, mual, tak dapat berkonsentrasi, tubuh lemah, demam, pusing, penglihatan kabur, sensasi tak tenang, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, langkah terbaik bagi para pengguna narkoba yaitu melakukan konsultasi ke pusat rehabilitasi narkoba. Tujuannya agar bisa diobati secara langsung di bawah pengawasan tim medis. Akibat buruk yang diakibatkan dari penggunaan narkotika cukup banyak, contohnya narkoba bisa mengakibatkan badan lemas, sering berhalusinasi, masalah di otak dan jantung, juga bisa mengakibatkan perilaku berubah. Karenanya direkomendasikan agar para pengguna langsung saja berobat ke pusat rehabilitasi narkoba, atau bisa memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat.

Sabu merupakan kategori methamphetamine yang apabila dikonsumsi akan memicu kecanduan dan terjadi efek samping misalnya kecemasan, depresi, paranoid, cacat genetik pada janin, serta cacat otak permanen. Apabila telah kecanduan maka akan memerlukan upaya dan perawatan tersendiri agar dapat terbebas dari narkoba.

Sabu merupakan obat stimulan yang cukup kuat untuk sistem saraf pusat manusia. Sebutan lain untuk zat ini yaitu metamfetamin. Sabu merupakan obat yang dialokasikan dalam mengobati masalah hiperaktif yang dalam istilah kedokterannya attention deficit hiperactivity disorder (ADHD). Sabu juga diterapkan untuk narkolepsi yaitu kelainan sistem saraf yang mengakibatkan penderita tertidur berlebihan dan mendadak.

Wujud sabu yang kerap dipakai pecandu yaitu berbentuk serbuk putih. Serbuk putih tersebut berukuran halus dari kristal meth. Serbuk tersebut tak memiliki bau, berasa pahit, serta mudah larut dalam air. Sabu aktif dalam sistem saraf pusat. Zat tersebut berfungsi memperbesar produksi dopamin dalam otak. Dopamin merupakan jenis hormon yang ikut dalam mengatur gerakan tubuh, sensasi gembira, kekuatan mengingat dan belajar.

Kemauan sendiri pengguna untuk mengakhiri menggunakan sabu adalah keputusan yang harus dihargai. Tekad berhenti mengkonsumsi sabu merupakan langkah paling utama dalam upaya membebaskan diri dari narkotika. Dianjurkan agar pengguna berkonsultasi di klinik rehabilitasi narkoba ketimbang berupaya melakukannya sendiri. Pengguna pun bisa mendatangi panti rehabilitasi yang dikelola swasta untuk pendampingan tahapan rehabilitasi.

Saat berada di panti rehabilitasi narkoba, pengguna akan dibimbing dan didampingi dalam tiap tahap rehabilitasi diantaranya perawatan ketika sakau. Tahapan rehabilitasi narkoba meliputi detoksifikasi (memutus penggunaan narkoba sekaligus mengantisipasi sakau, dapat dengan mengkonsumsi beberapa obat tertentu sebagai substitusi narkoba serta dilakukan konseling, rehabilitasi non medis, lalu dilanjutkan tahapan bina lanjut mengikuti berbagai aktifitas menurut minat dan bakat.

Usai melalui tahapan terakhir maka mantan pengguna siap kembali kepada keluarga mereka dan juga masyarakat dengan kondisi yang sudah bersih. Sesudah bersih maka ada baiknya mantan pengguna tak berurusan lagi dengan teman yang masih mengkonsumsi narkoba supaya tak terjebak menggunakan narkoba kembali.

Metode untuk membersihkan efek sabu yang masih tersisa dalam darah atau organ tubuh lain yaitu dengan menyudahi menggunakan narkoba. Senyawa sabu akan bersih dengan berlalunya waktu. Yang paling utama sesudah tubuh dan jiwa bersih yaitu tak lagi menggunakan narkoba. Konsentrasi sabu dapat dilacak dari darah, kencing, air liur, serta rambut.

Durasi waktu bersihnya konsentrasi sabu di dalam tubuh biasanya berbeda-beda sesuai dengan pada berapa lama penggunaan sabu, takaran sabu yang digunakan, panjang rambut, dan sebagainya. Bila di dalam darah misalnya, kandungan sabu dapat mengendap antara 1-2 hari, di kencing antara 1-4 hari, di air ludah antara 2 jam – 1 minggu, serta di rambut dapat mencapai bulanan hingga bertahun-tahun.